• Pengunjung tiba dan hanya berjarak 100 meter dari jalan utama menuju lokasi Telaga Tambing. Kawasan ini terletak di Desa Sedoa, Kec. Lore Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Indonesia.

  • Bocah bersantai dengan ayunan di bibir Telaga Tambing.

  • Pengunjung bertenda di bibir Telaga Tambing. Pada hari libur, bibir telaga ini dipenuhi dengan tenda-tenda aneka warna.

  • Kepala Balai Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) Sudaryatna menunjukkan peta pengembangan kawasan eko wisata Telaga Tambing. Di kawasan ini akan dibanuna sejumlah fasilitas yang lebih memadai tetapi dengan tetap berpedoman pada kawasan lestari.

  • Selain panorama alam, di sekitar elaga ini juga bisa ditemi tumbuhan Kantong Semar. Di Indonesia ada 11 spesies kantung semar, 5 diantaranya dapat dijumpai di sekitar telaga ini dan 1 di antaranya endemik, hanya ada di Telaga Tambing, namanya Nepentes Pitopangi. Pitopangi adalah nama ilmuwan yang menemukannya.

  • Inilah tumbuhan Kantong Semar endemik yang diberi nama Nepentes Pitopangi yang hanya ada di sekitar Telaga Tambing.

  • Rumah penelitian bagi tamu asing yang silih berganti datang di kawasan ini.

  • Kebanyakan pengunjung ke telaga ini menginap di lokasi. Tenda-tenda disiapkan oleh pengelola, yakni Taman Nasional Lore Lindu (TNLL). Tenda yang tersedia hanya sekitar 25 unit, namun akan ditambah lagi sejalan dengan makin meningkatnya jumlah kunjungan.

  • Sebagian pengunjung mulai tersadar akan suguhan panorama telaga di pagi hari yang sangat memikat dengan kabut yang memenuhi permukaan air telaga.

  • Sebagian pengunjung mulai tersadar akan suguhan panorama telaga di pagi hari yang sangat memikat dengan kabut yang memenuhi permukaan air telaga.

  • Deretan tenda di sekeliling telaga. Sebagian pengunjung masih terlelap di tendanya meski sajian alam di sekitarnya sungguh memesonakan mata.

  • Pengunjung menikmati suguhan panorama telaga di pagi hari yang sangat memikat dengan kabut yang memenuhi permukaan air telaga.

  • Cukup sudah, waktunya pulang. Nanti datang lagi..

1/

Pesona Poso di Telaga Tambing

ENVIRONMENT
STORY
Travel

SEJAK konflik horizontal itu pecah di 1998, Kabupaten Poso yang terletak sekitar 250 kilometer arah Timur Kota Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah nyaris identik dengan kerusuhan, perpecahan, pengkotak-kotakan agama hingga terorisme.

Kondisi itu sesungguhnya tidak selaras dengan alam yang diciptakan Tuhan di wilayah itu. Betapa tidak, panorama alam yang tersaji sungguh sangat menyejukkan dan menjanjikan kedamaian dan ketenangan.

Lihatlah Danau Poso di Tentena yang merupakan danau terluas kedua di Indonesia setelah Danau Toba di Sumatera Utara. Lihatlah gugusan megalitikum peninggalan zaman batu yang terhampar luas di savanna Napu, Lore Utara dan disebut sebagai megalit tertua dan terluas di Indonesia.

Lihat pula Telaga Tambing yang tak hanya membuat selalu rindu dengan kicau burung endemiknya tetapi juga anggrek hutannya. Bahkan untuk yang terakhir ini, pesona Kabupaten Poso menjelma di telaga yang luasnya tidak lebih dari 6 hektar itu.

Poso hanyalah sebuah istilah atau penamaan adminsitratif bagi sebuah territorial, karena seharusnya Poso adalah kemajemukan, keindahan, ketenangan dan kedamaian seperti yang terpapar di Telaga Tambing yang otoritasnya dipegang oleh Balai Taman Nasional Lore Lindu (BTNLL).

Maka tidak mengherankan jika Poso yang “diributkan” tidak mengurangi hasrat pelancong untuk menikmati kemajemukan, keindahan, ketenangan, dan keindahan di telaga tersebut. Pesona Poso menjelma di Telaga Tambing.

Bahkan dalam dua tahun terakhir ketika operasi keamanan terus digulirkan di Poso, justeru jumlah kunjungan wisatawan ke telaga ini naik hingga tiga kali lipat. Bukan hanya pelancong lokal yang dengan kendaraan ojek saja sudah bisa sampai di tempat ini, pelancong mancanegara bahkan lebih tak terkira lagi.

Keunikan dan lebih-lebih lagi keasrian telaga ini menjadi salah satu alasannya. Ekosistem dan habitatnya begitu terjaga. Hutan-hutan hujan tropis yang khas di sekeliling telaga ini sulit ditemukan di tempat lainnya. Maka selalu saja ada bule yang berani memberi tip relatif mahal jika suasana itu bisa dipertahankan hingga ia mengulangi kedatangannya ke telaga tersebut kemudian hari.

“Di telaga inilah Poso selalu dirindukan,” aku Jeane, wisatawan asal Swiss yang pernah berkunjung ke tempat ini. ***

Naskah dan foto: Basri Marzuki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *