• Pekerja mendaki tebing bukit untuk menurunkan bebatuan di tambang batu rakyat Dusun Salena, Kel. Tipo, Ulujadi, Palu, Sulawesi Tengah, 27 Desember 2013. Selain dijual ke pasar lokal, hasil tambang rakyat yang mulai dibuka sejak setahun tersebut juga dijual hingga ke pulau Kalimantan melalui pengusaha besar. INDONESIA PRESS PHOTO/Basri Marzuki

  • Penambang tradisional memecahkan bebatuan yang mengandung emas di lokasi tambang emas Dusun Vatutempa, Poboya, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (3/2). Penambang tradisional di wilayah tersebut mengkhawatirkan terjadinya benturan dengan penambang modern yang menggunakan alat berat karena secara administratif, perusahaan tambang berat tidak dibenarkan di wilayah tersebut. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/14

  • Penambang tradisional keluar dari lubang tambang emas di Dusun Vatutempa, Poboya, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (3/2). Penambang tradisional di wilayah tersebut mengkhawatirkan terjadinya benturan dengan penambang modern yang menggunakan alat berat karena secara administratif, perusahaan tambang berat tidak dibenarkan di wilayah tersebut. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/14

  • Batuan yang mengandung emas dikumpulkan untuk diangkut ke mesin-mesin pengolah atau tromol.

  • Pekerja mengumpulkan pasir-pasir dari batu yang telah dihancurkan dengan mesin penumbuk di pengolahan emas tradisional Kelurahan Kawatuna Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (4/1). Pengolahan emas tradisional yang tidak jauh dari lokasi tambang emas rakyat Kelurahan Poboya itu mampu menghasilkan hingga puluhan gram emas setiap kali pengolahan. Meskipun pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan moratorium sementara, namun aktivitas tambang emas rakyat di kawasan itu tetap berjalan. ANTARAFOTO/Basri Marzuki/13

  • Pekerja menunjukkan pasir dari batu yang telah dihancurkan dengan mesin penumbuk di pengolahan emas tradisional Kelurahan Kawatuna Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (4/1). Pengolahan emas tradisional yang tidak jauh dari lokasi tambang emas rakyat Kelurahan Poboya itu mampu menghasilkan hingga puluhan gram emas setiap kali pengolahan. Meskipun pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan moratorium sementara, namun aktivitas tambang emas rakyat di kawasan itu tetap berjalan. ANTARAFOTO/Basri Marzuki/13

  • Pekerja memasang tali untuk memutar tromol yang telah diisi dengan butir-butiran pasir mengandung emas. Tromol itu telah diisi dengan cairan kimia (sianida) untuk menangkap kandungan emas.

  • Sampah gilingan (tailing) dikumpulkan untuk diproses kembali. Kandungan emas pada tailing ini bisa lebih banyak dari pada emas yang didapatkan dari gilingan atau tromol.

  • Penyaringan emas dilakukan pekerja. Kandungan emas terkumpul jadi satu dalam larutan sianida.

  • Pekerja membakar emas yang bercampur dengan perak untuk mendapatkan emas murni di pengolahan emas tradisional Kelurahan Kawatuna Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (4/1). Pengolahan emas tradisional yang tidak jauh dari lokasi tambang emas rakyat Kelurahan Poboya itu mampu menghasilkan hingga puluhan gram emas setiap kali pengolahan. Meskipun pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan moratorium sementara, namun aktivitas tambang emas rakyat di kawasan itu tetap berjalan. ANTARAFOTO/Basri Marzuki/13

  • Pekerja menunjukkan emas murni yang diperoleh dari hasil pengolahan bebatuan lalu dibakar di pengolahan emas tradisional Kelurahan Kawatuna Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (4/1). Pengolahan emas tradisional yang tidak jauh dari lokasi tambang emas rakyat Kelurahan Poboya itu mampu menghasilkan hingga puluhan gram emas setiap kali pengolahan. Meskipun pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan moratorium sementara, namun aktivitas tambang emas rakyat di kawasan itu tetap berjalan. ANTARAFOTO/Basri Marzuki/13

1/

Kilau Emas Poboya yang “Membutakan”

ENVIRONMENT
Projects
STORY

PANAS yang membakar kulit tak menghalangi para penambang emas tradisional di Dusun Vatutempa, Kelurahan Poboya, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah  untuk terus mengayungkan martil atau memahat bebatuan cadas. Bagi para penambang yang berasal dari berbagai daerah di Sulawesi bahkan ada yang datang dari luar pulau itu, emas memilik daya tarik tersendiri yang sulit dihindari ketika silaunya menerpa mata dan nilainya yang menebalkan kantong.

Ribuan warga datang berduyun-duyun mengeruk emas di wilayah tersebut. Menurut data yang dirilis oleh Dinas Pertambangan setempat, kandungan emas yang terdapat wilayah yang sebelumnya sudah dikontrakkan kepada pemodal asing itu bisa mencapai ribuan ton yang terpendam dalam bebatuan di bukit-bukit cadas.

Tak kurang dari sekitar 45 hektar lahan yang masuk dalam kawasan konservasi Taman Hutan Rakyat itu kini meranggas akibat penggalian dan pemahatan gunung-gunung batu di dalamnya. Ratusan kilogram cairan kimia tertumpah akibat proses penangkapan emas melalui penggilingan-penggilaingan warga.

Penelitian yang dilakukan oleh individu dan Dinas Kesehatan setempat tiga tahun terakhir menyebutkan, kawasan itu telah tercemari kandungan kimia Sianida dan Mercury yang sudah di ambang batas. Bahkan penelitian terakhir menyebutkan, udang kecil yang ditangkap nelayan di sekitar pantai Teluk Palu yang menjadi pembuangan limbah pengolahan emas itu, kini telah terkontaminasi zat mematikan itu.

Ini juga menjadi peringatan serius bagi warga yang bermukim di sekitarnya, karena suplai air bersih bagi penduduk di ibukota Palu berasal dari kawasan tersebut.

Kini, meski pemerintah daerah setempat menyadari dampak lingkungan dari pertambangan emas rakyat itu, namun aktivitas pertambangan masih tetap berjalan. Kilau emas telah membutakan mata-mata para pengambil kebijakan akan kelansungan hidup anak cucu mereka nantinya. ***

Naskah dan Foto: Basri marzuki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *